Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pantai Menganti dan Hati yang Menanti

Perjalanan itu ibarat rembulan yang banyak diambil oleh pengarang ke dalam saku karyanya. Kehadirannya terang benderang untuk menjadi buah cerita manis. Sekalipun hujan muncul, tapi pengarang tetap bisa menambahkannya sebagai nuansa baru cerita.

Sunrise di Pantai Menganti

Saya hanya belajar merangkai perjalanannya dalam tulisan ini. Siapatahu bisa menjadi oleh-oleh bagi para pemeran perjalanan. Kemudian menjadi arsip kenangan dan bisa dibuka sewaktu-waktu oleh mereka di masa mendatang. Saat hendak mengingat bagaimana kebersamaan muncul, ternyata berasal dari bekal kasih sayang pertemanan.

Saya bukanlah pengarang atau penulis handal. Saya hanya sedang menabung kisah perjalanan. Agar lebih terdokumentasi. Begitupun, ada beragam cerita yang dikirimkan atas kekuasaan-Nya ke dalam kepala saya. Jadi mau bagaimana lagi? Jemari dan kepala saya secara naruliah didorong untuk menuliskannya.

Perjalanan pada momen ini, ialah perjalanan ke Pantai Menganti di hamparan selatan Kebumen. Sebuah tempat yang punya momen sangat personal bagi saya. Begitupun menjadi bekal saya mengenal kebersamaan, sebagai bentuk kasih sayang dan munculnya semangat anak muda sejak 2015.

Potret dari Objek Lembah Menguneng

Kebersamaan di Pantai Menganti pada 29-30 Maret 2022 menjadi menarik karena para pemerannya. Sebutlah Mas Agung dan istri, Pak Djun, Mba Widi, Mas Rama, Mba Ontro, Mas Rosid, Mba Lisna, Mas Sajid, Mas Anshor, Mas Adi, dan Mas Bayu. Tentu saya perlu menyebutkannya satu per satu. Sebab merekalah pembawa cerita di panggung Menganti pada perjalanan ini.

Begitupun, dari merekalah saya banyak belajar tentang apa saja. Dari istilah pete-petean (patungan), anak muda berkarya, taman baca, sastra, cerita manis cinta, kepemimpinan, kebijakan, bahkan pada soal kelirunya benar-salah dan pentingnya filsafat.

Obrolan yang muncul semacam dialog pembelajaran yang saling merespon satu sama lain. Sampai setidaknya buat saya, dikenalkan bagaimana ilmu bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat dalam lingkup yang luas. Serta saya ditemukan kebersamaan dari beragamnya asal usul, sifat, perilaku, dan lain sebagainya.

Bagi saya, Pantai Menganti memang amat dinanti. Pertanyaan berulangkali hadir di kepala saya pada waktu sebelumnya. Kapan saya bisa ke Pantai Menganti? Dengan siapa saya akan ke sana? Sedangkan kekasih pun belum ada saat ini. Dan tiba-tiba saja, setelah pertemuan anak muda pada Sabtu sore di Sekretariat Pandjer School. Terbersitlah rencana untuk pergi ke pantai ini. Dan kemudian hadir pada Selasa menjelang malam tanggal 29 Maret 2022.

Tiba di Pantai Menganti

Selasa malam sekitar pukul setengah sembilan. Kami sampai di Pantai Menganti. Nuansanya makin berbeda bila dibandingkan sejak pertama kali saya ke pantai ini pada 2013 atau pun pada momen penting saya pada 2015 di pantai ini. Semua telah tertata, lampu di mana-mana, saung-saung atau gazebo tersebar, dan beragam tanaman serta rerumputan yang sengaja ditanam menambah manis nuansa Menganti.

Malam itu tenda kami berdiri di salah satu bukit, di dekat tempat pengunjung yang biasanya berfoto lalu menuliskan caption Lembah Menguneng buat medsos. Empat tenda kami berhadapan langsung dengan lautan begitupun tenda pengunjung lain. Deburan ombak berbunyi tiada henti, sesekali terdengar sebagai dentuman keras kala ia menabrak batu karang dan tebing.

Hidangan berupa makanan ringan, mie goreng, nasi rames, dan sebagainya. Menjadi alat kesederhanaan yang memiliki kenyamanan tersendiri. Begitupun kopi, susu, dan minuman lainnya menjadi teman obrolan yang memenuhi dahaga perbincangan. Sambil main kartu, ngaji filsafat dan ilmu, bercerita asmara, pemberdayaan, kemasyarakatan dan bahkan berdialog dengan diri sendiri. Semua muncul pada malam itu di Pantai Menganti.

Bermain Asyik di Menganti

Hampir tengah malam, saya menepi ke ujung bukit dan bersender di salah satu saung. Menghadap lautan lepas dan samarnya cakrawala. Bunyi puisi Rendra tiba-tiba hadir di kepala saya, “Wahai, rembulan yang bundar. Jenguklah jendela kekasihku! Ia tidur sendirian, hanya berteman hati yang rindu.”

Lalu pertanyaan muncul dalam dialog diri sendiri, “Owalah Dul, kekasih yang mana? Yang kau sebut pacar pun tak ada.”

Lirik lagu “Tutur Batin” karya Yura Yunita kemudian muncul, “Bagaimanakah kabar diriku? Baik-baik saja.”

Kemudian muncul lirik lagu Yura Yunita yang lain berjudul “Tenang”.

Dialog dini hari.
Kepada diriku sendiri.
Tak bisa ku tertidur lagi.
Melayang pikirku tak pasti.”

Dialog dini hari itu muncul di Pantai Menganti. Suatu kenyamanan untuk memenuhi perbincangan yang ramai di dalam kepala. Mungkin karena ramainya perbincangan di kepala, oleh karena itulah saya ditakdirkan menjadi laki-laki kurus. Saat saya belum sanggup menuliskan segala cerita di kepala. Ternyata Pantai Menganti telah membantu saya lebih tenang, sebab dialog di dalam kepala, saya lepaskan ke hamparan laut lepas di lewat tengah malam itu.

Seusai itu, saya gelar matras di depan tenda. Di bawah langit penuh bintang saya putar lagu John Denver dan The Petersens berulangkali. Kenyamanan itu kemudian timbul lagi. Mungkin, karena saya lebih menyukai nuansa laut dibandingkan nuansa lain. Di mana biasanya, anak-anak muda sepantaran saya banyak yang menyukai pegunungan, kebun teh dan kopi, dan nuansa sejuk lainnya.

Saat merasa cukup memutar karya musisi kesukaan saya. Sesekali saya ikut nimbrung ke dalam obrolan lain pada tengah malam lewat itu. Sebagaimana obrolan Mas Rosyid dan Mba Lisna, sekalipun agak tidak enak juga mengganggu keduanya. Atau obrolan Mas Rama dan Mas Sajid mengenai kemasyarakatan yang cukup asyik. Lalu saat kopi terakhir saya malam itu habis. Kaki saya melangkah menuju tenda, dan benar-benar terlelap kemudian.

Saya dibangunkan oleh suara Mas Rosyid ketika nama saya dia sebut di luar tenda. Sedikit saya buka celah tenda dari dalam, beragam kamera pengunjung sudah berjejer rapi dan menuju satu tempat yang sama, yakni ke arah di mana matahari akan terbit. Mereka hendak mengambil matahari ke dalam saku kamera masing-masing. Saya pun teringat akan karya Seno Gumira Ajidarma, saat sepotong senja diambil oleh Sukab dan membuatnya diburu banyak orang ketika senja yang manis hilang. Sebuah senja yang akan diberikan pada Alina pada kisah itu.

Ketika Menganti di batas terang benderang. Saya bertemu dengan Mba Lisna dan Mas Anshor di depan Mushola. Kemudian mengajak keduanya berkeliling. Ke arah Jembatan Merah yang terkenal itu, lalu menyusuri jalanan setapak di tepian bukitnya ke arah Lembah Menguneng, sekaligus kembali ke tempat tenda kami berada.

Bersama Teman-Teman

Di depan tenda, teman-teman sudah berkumpul, lagu-lagu galau jadul kesukaan Mas Bayu terputar dari ponselnya. Kami pun bernyanyi, menandakan orisinalitas komunitas kelahiran 90an. Di sekeliling ruang kami berada, para pengunjung yang membludak pada malam kemarin sedang asyik dengan kegiatannya masing-masing. Baik berpotret ria dengan kameranya, berbincang asyik dan saling sapa dengan pengunjung yang lain.

Pantai Menganti yang saya nanti saat ini, telah ramai dengan pengunjung. Dengan tujuan masing-masing mereka berada di sini. Satu hal yang cukup asyik adalah melihat sepasang kekasih atau suami istri yang bercanda mesra.

Keluarga Pandjer School

Pertanyaan kembali muncul, “Kalau saya dan teman-teman sudah berkeluarga semua. Apakah nuansa seperti ini bisa hadir lagi?” Rasanya asyik membayangkan cerita seperti itu. Dan saya percaya peristiwa itu akan muncul di kemudian hari.

Seusai mengambil potret bersama, kami menuju ke arah Tebing Keteb Widadari. Berkunjung di salah satu warung makan. Sambil menunggu sarapan tiba, para lelaki bermain bola, yang perempuan duduk manis menghadap laut dengan ombak bergemuruh. Saya, Rama, dan Anshor memilih untuk menceburkan diri di antara ombak yang saling beradu itu. Mumpung di laut, mandi saja. Begitulah saya menyukai tepian laut lepas.

Bersama Pandjer School

Beruntunglah saya mengenal kebersamaan seperti saat di Pantai Menganti ini. Dan bersyukurlah saya ditemukan dengan keluarga Pandjer School yang mewadahi segala usia untuk tetap semangat belajar. Sinau bareng atau belajar bareng. Dan saling menghargai satu sama lain.

Lalu, apa itu Pandjer School? Pada kesempatan lain, akan saya ceritakan. Dan entah sudah berapa kata naluriah saya mendorong untuk menuliskan ini. Rasanya sudah perlu saya cukupkan pada kalimat ini.[*]

Posting Komentar untuk "Pantai Menganti dan Hati yang Menanti"