Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kepingan 3: Perempuan Bermata Rembulan

Pemandangan Laut di Kebumen

Adakah yang pernah menuliskannya?

Pertanyaan itu muncul, sebab "Perempuan Bermata Rembulan" itu tengah masuk ke dalam ruang ceritaku. Di sela-sela minum kopi dan istirahat baca. Namanya kudengar dari sisa rekaman memori yang berulangkali berbunyi.

Ijinkan aku menyebutnya "Perempuan Bermata Rembulan", sebab dialah perempuan yang memiliki pandangan tajam, lengkap dengan keanggunan kuasa pencipta. Dan kami telah terpilih untuk pernah bertemu, berbincang, dan mungkin membangun cerita selanjutnya.

Lalu apa cerita yang selanjutnya itu? Aku tak tahu, begitupun dengan dirinya. Kami tak pernah membahasnya. Masih sekadar berbincang, menanam benih kemesraan, baik sebagai teman maupun perasaan lainnya.

Dan perasaan lainnya itulah yang menjadi salah satu sebab pertanyaan muncul. Sebab cerita, terkadang muncul dari banyaknya tanya. Kemudian tersusun dalam sistematika proses jawaban dalam tulisannya.

Aku bukan pencerita atau penulis yang ngetop. Sebagaimana tokoh-tokoh besar penulis, dengan banyaknya karya yang dibaca khalayak.

Aku hanyalah seseorang yang senang memainkan pena. Berproses menuliskan kilatan ide di dalam kepala. Kadang mungkin bagus guratan pena itu, tapi lebih sering buruk tertulis.

Namun, berproses adalah landasan kuat hati, agar belajar dan masih belajar menjadi pegangan. Termasuk menuliskan "Perempuan Bermata Rembulan". Mengenalkan sisa hujan yang menjadi puisi atas namanya. Menyampaikan rekah bunga yang tumbuh dari asal senyumnya.

Dan bagaimana caraku membunyikan banyak hal tentangnya? Selain mencoba untuk tetap menuliskan "Perempuan Bermata Rembulan" itu.

Posting Komentar untuk "Kepingan 3: Perempuan Bermata Rembulan"