Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Demam dan Rindu Bersahutan

Potret Bermalam di Pantai Menganti

Kering dan basahnya tanah silih bergantian. Sebab hujan bisa datang kapan saja. Rencana bisa terganggu di sisi yang mengharap benderang, dan doa terkabul bagi yang memohon hujan dengan kedalaman hati penuh.

Aku tak bisa menyalahkan siapapun. Termasuk kepada hujan, semburat gelap awan, dan kencangnya angin. Hanya karena demam tinggi yang menyusup masuk tubuhku, dari hari pertama puasa ramadhan, bahkan sampai hari keempat ini.

Rencana buat menulis setiap hari dengan standar minimal 300 kata pun terganggu. Padahal kebiasaan menulis itu sudah kumantapkan di dalam hati, dan perlu kulakukan buat mengobati ramainya percakapan di kepala.

Selama empat hari sebelumnya, tak dapat kutuliskan apapun. Kecuali pesan singkat yang memerlukan jawaban segera. Dan mohon berikanlah maaf padaku, sebab ada juga pesan singkat yang belum bisa kubalas. Sebab kepala tak hanya ramai dengan kalimat saja. Ada juga pilu dan benturan-benturan di dalamnya.

Namun kupaksakan jemariku membuka aplikasi catatan di ponsel. Dan harus kutuliskan sesuatu. Sekalipun mata berkabut samar, serta tubuh diselimuti nuansa panas. Seolah ada sumbu vulkanik yang terlanjur meletus. Dan laharnya mengalir ke seluruh tubuhku.

Maka dalam tulisan ini, ruang tutur batin yang kubiarkan bercerita. Mungkin tak punya arti bagi orang lain. Namun bagiku, cukup meredakan banyak hal. Bukankah tulisan terkadang ditujukan buat seseorang? Jadi tak masalah bila lainnya tak mengerti.

Hanya saja, ada nasib lain yang menimbulkan cukup derita. Sisa percakapan terakhir dengan perempuan itu. Makin tumbuh sebagai perasaan baru. Berkelebat ke sana ke mari di sekitar tubuhku. Dan buat beberapa waktu, menjadi obat pereda demam tubuhku.

Dan mau apa dikata. Belum bisa kutampilkan secara benderang siapakah perempuan itu. Setidaknya, darinyalah tulisan ini hadir, buat mengobati tubuh demamku. Sekaligus melupakan obat-obat pahit resep dokter.

Perempuan itu telah berhasil menuntun jemariku. Buktinya, entah sudah berapa kata-kalimat telah kutuliskan ini. Perempuan dengan wajah bundar, suara serak-tipis, dan pandai menitipkan sesuatu di kepalaku.

Hal pertama yang dia titipkan adalah suaranya. Kubawa pulang, kusimpan di tempat paling aman. Kubuka sekali waktu, lalu kuputar ulang suara itu. Bunyinya melukiskan sesuatu dalam bayangan. Dan kulihat dia tersenyum, pesona tiada tanding. Lebih lengkap bila dia tertawa, dan segala duka dalam raut wajahku seolah runtuh seketika.

Tubuhku bersahutan demam dan rindu. Yang satu melukai, lainnya mengobati. Jarak pun menabung rindu baru, dan pertemuan menjadi harapan yang lama bertahan.

Perempuan itu entah di mana saat ini. Tak kubiarkan diriku bertanya padanya. Hanya kuperbolehkan diri menuliskannya dalam banyak waktu. Sebab tanya hanya mengundang pertanyaan baru. Sedangkan menulis, membuatnya hadir dalam keabadian. Dan bisa kubuka kapan saja. Melihat bagaima rindu, pernah tumbuh dari sekadar tawanya.

Posting Komentar untuk "Demam dan Rindu Bersahutan"