Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kepingan 2: Sebelum Pagi

Abdul di Dekat Laut

Kokok suara ayam memanggil pada dini hari. Aku pun terjaga di sela-sela belaian desir anginnya. Sebab jendela terbuka, karena kutunggu jejak suaramu yang lain muncul ke dekatku.

Tabungan jejak suaramu menumpuk. Brankas tak mampu menampungnya. Terkadang mereka lepas kendali. Bersahutan, bernyanyi, dan bergema memenuhi kamarku.

Maka kutuliskan sebuah surat. Kutitipkan pada desir angin sebelum pagi. Keluar jendela, mengantarkannya padamu.

Bila surat itu sampai padamu. Biarkanlah surat itu menemanimu. Merekam jejak suara, tawa, bahkan caramu tersenyum. Sebab hendak kukirimkan lagi seekor merpati, mengambil catatan dan lukisan tentangmu. Lalu kusimpan sebagai tabungan rasa penuh rindu.

Posting Komentar untuk "Kepingan 2: Sebelum Pagi"