Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

OKU dan Perjalanan Baru Raji

Perjalanan terkadang datang untuk dipilih. Mau tak mau. Melewati batas kenyamanan. Menemui hal-hal baru. Termasuk bagaimana rasanya hidup dalam indekos. Jauh dari keluarga dan di luar pulau pula.

Begitulah kini hendak dirasakan Raji. Seorang sahabat saya di Kota Semarang. Telah lama bertempat tinggal di kota itu, dan saat ini dia harus berpindah ke Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatra Selatan. Bahkan akan menetap lama di sana. Bekerja di salah satu balai pemasyarakatan.

Potret Bersama Raji
Azizah, saya, dan Raji pada 2017.

Dia berangkat pada Kamis, 31 Maret 2022 dari Kota Semarang. Kemudian transit di Soekarno-Hatta. Bahkan Caca yang juga teman saya, menempuh perjalanan dari Jawa Barat untuk sekadar bertemu dengannya di masa transit, sebelum kemudian berangkat ke Palembang. Terlihat dari whatsapp story yang dibagikan Caca.

Barangkali, Raji memang penyuka perjalanan. Bahkan dia rela mengendarai motornya ke berbagai tempat. Baik ke pegunungan maupun sekadar minum kopi bersama teman-temannya. Seringkali bila kegabutan muncul, saya diajak motor-motoran olehnya, sambil ngobrol apa saja yang muncul dari benak kami.

Obrolan sastra dan literasi muncul dalam banyak waktu di antara kami. Nama-nama asing penulis dikenalkannya pada saya. Bahkan buku-bukunya banyak saya pinjam. Begitupun saya sering meminjam banyak hal padanya, termasuk uang dan waktunya.

Meminjam waktunya hanya untuk mengisi waktu. Sekaligus memenuhi dahaga perbincangan dengannya. Dari obrolan berat politik sampai obrolan semua bangsa, yakni soal asmara. Saya tak tahu, apakah dia patah hati ketika perempuan yang pernah dikaguminya, ternyata menikah dengan yang lain.

Raji memang pandai menyimpan. Wajahnya seolah terlihat sama. Hampir tidak pernah saya melihatnya marah. Lebih suka bercanda. Sedikit-sedikit tertawa dan temannya mungkin lebih banyak dari saya. Sebab keakraban menjadi salah satu daya tariknya.

Begitupun dengan karyanya, jauh lebih banyak yang dia hasilkan. Dari kajian ilmiah sampai kepenulisan populer. Dia memilikinya, dan berpotensi lebih baik dalam kepenulisan dibandingkan saya. Silakan kunjungi blog PAPERAJI miliknya.

Warmindo di sekitar kampus banyak menjadi ruang pertemuan kami. Obrolan sastra baik buku dan tokohnya muncul di sana. Bahkan dari siang sampai sore pun sudah biasa. Entahlah, pemilik warmindo seolah tak marah bila kami berlama-lama di sana. Sampai kami dikenal oleh mereka.

Barangkali, satu-satunya yang saya rahasiakan darinya adalah tokoh di balik “Hujan di Balik Senja”. Sebuah karya di dalam kepala saya, di mana saya menuliskan seorang perempuan yang saya kagumi. Atau mungkin, dia sebenarnya sudah tahu siapa tokoh perempuan itu. Dan dia memilih untuk tidak bercerita.

OKU menjadi tempat barunya untuk berlabuh. Bertahan hidup di sana dan menemukan teman-teman baru di pulau Sumatra. Saya pun teringat pada 2018, di mana kami pernah melakukan perjalanan ke pulau megah itu. Mengikuti kompetisi kepenulisan di salah satu kampus. Bukan di OKU, bukan juga di Sumatra Selatan. Melainkan di Kota Padang Sumatra Barat.

Kepenulisan seolah menjadi daya tarik bagi kami. Obrolan karya para penulis selalu lebih banyak memakan waktu dibandingkan perbincangan lain. Saya pun banyak belajar darinya tentang hal ini. Respon obrolan kepenulisan selalu menjadi oleh-oleh ide bila saya kembali ke rumah. Sekalipun, kepenulisan saya masih segini-segini saja. Dan perbincangan tentang kepenulisan selalu menjelma rindu yang dinantikan pertemuannya lagi.

Bagaimanapun, saya perlu meminta maaf padanya. Sebab saya belum sempat bertemu dengannya. Sekalipun kabar keberangkatannya ke OKU sudah saya terima cukup lama. Dan entah kapan, perbincangan secara langsung dengannya bisa saya lakukan lagi. Barangkali, kalau kesempatan itu ada, saya merasa perlu untuk berkunjung ke OKU dan benar-benar menemuinya.

Tentu saja, rasanya Raji perlu menjelajahi OKU. Sebab perjalanan, seolah menjadi caranya menikmati waktu. Sekaligus, agar ada cerita dan jawaban dari banyaknya pertanyaan saya tentang OKU. Termasuk, di mana letak kopi paling enak di kota itu. Sebab banyaknya perjalanan kami berdua, selalu ada kopi yang menemani.

Begitupun pernah kami melakukan perjalanan, berperan seolah Ben dan Jody dari film filosofi kopi. Saya diboncengnya untuk mencoba kopi Posong, Temanggung. Lalu mengomentari banyak hal terkait kopi dan bercerita banyak hal tentang kopi.

Menjelang puasa tahun ini, tak sekadar memenuhi kegabutan maka dia lakukan perjalanan. Dia penuhi perjalanannya untuk membuat cerita baru di pulau Sumatra. Bertempat tinggal, berteman, bekerja, dan merasakan rindu yang baru buat keluarga dan teman-teman lamanya. Bahkan mungkin, dia temukan mutiara cintanya. Melebur “Mutiara yang Hilang” sebagaimana kisah Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya HAMKA. Atau membuat cerita baru cinta dan menampik cerita lama yang mungkin dulu pernah membuatnya patah.

Selamat menempuh hidup baru, Ji. Semangat!!![*]

Posting Komentar untuk "OKU dan Perjalanan Baru Raji"