Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tutur Batin Pertama

Pertemuan pertama seringkali terasa tak terduga.

Termasuk saat saya menemukannya. Ketika saya menuju tempat berbincang yang biasa saya lakukan. Dirinya hadir, ada di sana. Muncul perkenalan. Sekaligus pertanyaan.

Mengapa saya dipertemukan dengannya? Cerita apa yang hendak tumbuh? Dan kenapa dirinya cukup membekas, terbawa pulang ke rumah?

Potret Ombak di Pantai Menganti
Ombak di Pantai Menganti

Pada waktu itu, teman-teman saya sudah berkumpul. Celoteh dan ramainya percakapan bergemuruh. Mungkin hal ini biasa ditemukan di lingkup pertemanan. Ada yang pandai berceloteh, ada yang asyik untuk didengarkan, ada juga yang hanya senang mendengar.

Hal yang tak biasa, kemudian muncul saat saya baru menemukannya. Dia baru bagi saya. Tak pernah mengenalnya. Sekalipun ternyata, ada banyak temannya yang lain, juga saya kenal.

Dia duduk sembari mengerjakan sesuatu. Tutur katanya, menandakan kalau ia pandai bergaul. Termasuk pada perkenalan awal dengan saya. Begitupun, suaranya cukup lucu buat saya dengar. Sampai terberkas dalam ingatan saya dan terbawa pulang.

Cara ia bertutur dan tertawa tersimpan dalam ingatan saya. Entah kenapa, saya sudah lama tak merasakan hal itu. Termasuk, bunyi-bunyi yang lama sudah saya tinggalkan. Tiba-tiba hadir lagi. Bunyi-bunyi puisi baru lengkap dengan perasaannya.

Suaranya tumbuh di dalam kepala. Seolah dia bercerita dalam imajinasi. Dan berpentas tiada henti. Lantas, saya ingin menuliskannya sejak saat itu. Oleh karena suaranya.

Suaranya. Yah, hanya suaranya. Sebab dalam pertemuan awal. Jarang sekali saya mengingat wajah baru. Termasuk dirinya.

Berulangkali saya coba mengingat wajahnya dalam pertemuan awal. Dan saya selalu gagal.

Dan pada suatu sore. Saat saya masih berdagang. Tiba-tiba dia muncul. Anehnya, saya hampir tidak memandang wajahnya. Lebih karena takut saya salah menyapa. Sebab saya masih tak ingat wajahnya. Apalagi wajahnya berlindung dalam masker.

Sewaktu tiba-tiba muncul di area dagangan saya. Suaranya menambah ingatan baru di dalam kepala. Sekalipun tak dapat saya temukan wajahnya. Terutama, saat saya lebih banyak menunduk dan tak memandang wajahnya.

Saya hanya mencoba memastikan, bahwa perasaan baru tak muncul karenanya. Namun disayangkan, memori baru suaranya menjadi ramai di dalam kepala. Begitupun, kebiasaan menulis yang lama saya tinggalkan. Tiba-tiba hadir karenanya, dan saya mulai menulis lagi. Seolah ia datang untuk menjadi cerita baru saya.

Pertemuan demi pertemuan dengan teman berbincang masih seperti biasa. Dia pun seringkali hadir. Dan saya mulai mengenal wajahnya. Sebuah wajah yang mulai berperan dalam puisi saya.

Lambat laun saya mengenalnya. Cepat tanggap saya mulai memahami cara berbicaranya.

Bila pulang saya menenteng oleh-oleh dari berkas tawanya. Lalu saya susun sebagai bunyi puisi baru dalam setiap pertemuan.

Tak sekadar suara, kini wajah dan banyak tentangnya mulai saya kenal. Sekalipun belum ingin saya tuliskan siapa namanya sampai saat ini. Saya biarkan gelombang suaranya terus berbunyi. Berdendang di dalam kepala. Dan Sekali-kali hadir dalam mimpi.

Saya percaya bahwa ia datang untuk menambah cerita saya. Cerita yang dalam sekian lama pernah saya tutup. Dengan bunyi puisi yang membekas dan membawa pulang namanya ke palung hati.

"Wahai malam, bantulah aku menemani waktu istirahatnya. Duhai mimpi, putarkanlah pentas terbaik dalam tidurnya. Dan kamu, biarkanlah waktumu dipenuhi rindu atas namaku."

Posting Komentar untuk "Tutur Batin Pertama"