Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Malam Lebaran dan Kerinduan

Pantai Menganti Pagi Hari
"Cinta seperti penyair berdarah dingin
yang pandai menorehkan luka.
Rindu seperti sajak sederhana yang tak ada matinya."
Joko Pinurbo - Pacar Senja (2003)

Perempuan manis bermata rembulan menawarkan kisah. Bukan di atas kertas, lembaran tisu, atau coretan dinding. Dia menawarkan kisah baru, mulai dari dekat-mesra keseharian, kebersamaan saling rindu, dan tentu saja membangun kasih menua.

Memang, dia tak berucap langsung. Aku hanya menebak-nebak, dari gerak-liukannya saat bertemu, menyampaikan senyuman, dan meninggalkanku jejak sisa suaranya. Kadang cukup mengganggu, tapi aku menikmati derita tubuhku yang penuh rindu.

Entahlah, apakah dia malu-malu untuk mengucapkan rindu, misalnya. Ataukah, perasaan ini saja yang terlalu melangkah lebih jauh. Jauh dari kenyataan sesungguhnya, saat dia mungkin tak pernah memikirkan hal itu. Mungkin juga, dia lebih jauh mengharapkan sesuatu, saat aku datang menemuinya dan membuka satu per satu rindu yang telah kutabung.

"Malam ini aku akan tidur di matamu."
Joko Pinurbo (2004)

Duhai Rembulan, besok lebaran, orang-orang pun saling memaafkan. Dan perasaanku sampai saat ini masih sama, bahkan kerinduan padamu makin tumbuh dan mungkin bisa meledak bila suatu hari aku tak kuat menampungnya.

Hujan di malam lebaran hadir. Dua gelas kopi telah kunikmati. Aku tak bisa mencegah kopi yang menginginkan tubuhku. Kubiarkan kopi melesat dan menyebar ke seluruh tubuh. Kemudian menuntunku untuk menuliskan yang kau baca ini.

Mungkin kau tahu, bahwa hujan terkadang menjebak seorang penulis. Agar lekas menebar mata pena, dan menuliskan sesuatu. Aku pun terjebak, sekalipun hanya sebagai penulis amatiran, terjebak untuk menuliskan Perempuan Manis Bermata Rembulan.

Kubaca sajak Joko Pinurbo berjudul Pacar Senja. Dituliskannya bahwa, "Rindu seperti sajak sederhana yang tak ada matinya." Dan begitulah aku padamu, duhai Rembulan. Tabungan rinduku makin penuh atas namamu. Semoga pada lebaran ini, kita segera bertemu, sekadar melihat raut senyummu dan menyimpan sisa suaramu untuk kubawa pulang.

Posting Komentar untuk "Malam Lebaran dan Kerinduan"