Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Aku Tungku Tanpa Api

Duhai Rembulan Terkasih,

Aku bukanlah seorang penulis. Apalagi yang handal dengan segala harapan orang-orang tentangku di luar sana. Aku hanya ingin kau memaklumi, bila buruk dan tak enak dibacanya tulisan ini. Hanya perlu kau tahu, bahwa tulisan ini banyak tertuju pada namamu.

Lalu bagaimana kita pernah bertemu?

Aku akan mulai menceritakannya, ketika suatu saat, entah tiba-tiba kau duduk di sampingku. Pandainya kau bergaul, membuat kita lebih mudah untuk saling mengenal. Lalu kau memperkenalkan diri, dan namamu teringat erat di kepalaku.

Namamu terbawa olehku sampai ke rumah. Namun, tak dapat kuingat bagaimana wajahmu. Berkali-kali aku mencoba mengingat wajahmu. Selalu gagal berulangkali. Yang kuingat, hanyalah bagaimana caramu berbicara, dengan jejak suara yang berbeda. Dan kali pertama itulah, ada sesuatu lain dalam tubuhku, yang mulai memberontak, dan ingin mengenalmu lebih dekat.

Beberapa hari kemudian. Entah bagaimana takdir telah tertulis. Kita bertemu di tempat yang berbeda. Aku mengenal suaramu, tapi tidak dengan wajahmu. Kau mengajakku berbicara. Aku pun membalasnya. Namun, aku belum yakin bahwa kaulah itu. Sebab, aku belum mengenal wajahmu, hanya mengenal suara dan caramu berbicara. Dan pertemuan itu, telah membawakanku oleh-oleh baru. Sebuah pertanyaan, "Apakah itu kau, Rembulan?"

Pertanyaan demi pertanyaan, dibalas dengan banyaknya kesempatan bertemu. Dan pada pertemuan itulah, wajahmu mulai kuhafal, sekalipun tak berani kupandang wajah itu. Hanya sesekali, kupandang wajahmu, lalu kualihkan pada yang lain, bila kau tahu bahwa aku sedang memandangmu.

Wajahmu yang mulai kuhafal, kemudian hadir sebagai puisi. Tersusun bait-bait yang menemukan keindahan banyaknya bunyian. Ketukan demi ketukan selalu tepat pada porsinya. Dan begitulah, bagaimana rindu ini tepat hadir karenamu, Rembulan.

Duhai rembulan, pada paragraf ini, aku menulis pada hari yang berbeda dari saat aku memulai tulisan ini. Tengah malam hampir tiba. Bulan sudah bercahaya. Gemintang tersebar tiadak berkira. Dan rindu yang baru, telah tiba untuk kembali kutuliskan.

Pada malam ini, aku diajak temanku untuk latihan baca puisi. Sebab dia hendak menampilkan puisi sebagai pentas bakat dalam sebuah acara. Judul puisi yang kami bawa dalam latihan ini, berjudul "Kangen" karya W.S. Rendra.

Entahlah, bagaimana takdir selalu kebetulan tertulis. Sama seperti judul puisi itu, rasa kangen atas pertemuan denganmu. Mulai bergejolak lagi. Kata per kata hadir begitu saja. Menuntun jemari ini menampilkan isi hati.

Duhai Rembulan,

Engkau telah menjadi racun bagi darahku
Apabila aku dalam kangen dan sepi
Itulah berarti
aku tungku tanpa api.
(Kangen - W.S. Rendra)

Pejagoan, 22/06/2022

Posting Komentar untuk "Aku Tungku Tanpa Api"