Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Duhai Rembulan

Sudah lama aku lupa rasanya, menulis dalam secarik kertas. Sampai aku menemukanmu. Dan membuatku menulis lagi. Benar-benar di secarik kertas, dengan pena yang melambai-lambaikan perasaan.

Sebuah perasaan yang membuatku berkali-kali jatuh. Tepat jatuh pada palung rindu yang hadir atas namamu.

Duhai Rembulan, begitulah aku menyebutmu saat ini. Ketika aku mulai menulis lagi di secarik kertas yang sama. Saat malam telah lewat dan pagi hampir tiba. Lalu hendak timbul cahaya, yang mungkin menerangi gelap dalam diriku sebelumnya.

Duhai Rembulan, kau begitu indah dan satu-satunya. Setidaknya itu menurutku. Sekalipun dunia berubah pada detik ke detiknya. Dan sekalipun, perasaanmu mungkin belum sama rindunya sepertiku.

Duhai Rembulan, ijinkan aku menuliskan percikan surat. Sekalipun mungkin, tak akan kau ketahui makna di dalamnya. Sebab kau tak tahu bahwa surat ini tertuju padamu.

Namun, ada satu yang menjadi doa. Semoga lekas kita bertemu lagi, dan surat ini, benar-benar sampai padamu, ketika aku membacakannya langsung di hadapanmu.

Pejagoan, 20/06/22.

Posting Komentar untuk "Duhai Rembulan"